Kecelakaan Tragis X Maut

Sebuah kasus yang memenuhi segala syarat untuk mengaduk emosi publik. Kecelakaan tragis di jantung kota Jakarta. Terjadi hari minggu pagi. Menelan korban jiwa setidaknya 9 orang, belum termasuk mereka yang mengalami luka dan goncangan psikis. Penabraknya mengendarai mobil bermerk populer, sehingga mudah sekali diingat. Lalu, sosoknya yang mungkin tidak menarik dan menyebalkan itu, keluar dari pintu mobil seolah tanpa penyesalan. Bisa jadi karena masih dalam pengaruh minuman keras atau obat-obatan. Semalam suntuk berpesta dengan teman-temannya. Pulang dalam keadaan mabuk. Memuakkan.

Penabrak yang memuakkan itu, memacu mobilnya sampai sekitar 100 km/jam di jalanan dalam kota, sebelum kemudian oleng dan menghantam sekelompok orang tak berdosa yang berdiri di trotoar jalan. Sekelompok orang yang mungkin tak pernah menyangka terkena musibah selepas menjalani olah raga di minggu pagi itu. Belum lagi gambar-gambar dan potongan video yang kemudian beredar. Seorang ayah yang meratap kehilangan anaknya. Saya sendiri tak sanggup melihatnya karena menahan tangis. Menyedihkan.

Bukankah di tempat dan waktu yang sangat biasa itu, bisa jadi anda sendiri yang sedang berdiri di trotoar itu? Atau mungkin bapak, ibu, kakak, adik, atau anak anda? Dari bayangan bahwa anda atau orang yang anda cintai bisa menjadi korban suatu kecelakaan tragis yang disebabkan tindakan konyol seperti itu, wajar kemudian lahir suatu empati kepada para korban. Empati yang bisa jadi amarah. Dan tentu pengendara itulah biangnya. Tapi, jangan lupa, bukankah bisa jadi, si pengendara itu bapak, ibu, kakak, adik, atau anak anda? Atau bahkan anda sendiri?

Menurut pendapat saya, menarik untuk memahami kasus kecelakaan itu dengan mempertimbangkan sudut pandang di atas. Pada dasarnya, ada kecenderungan memotret pelaku dan korban sebagai satu kontras hitam putih, simbol baik dan buruk. Tapi bukankah kebenaran pada akhirnya bukanlah pencitraan, namun  kenyataan itu sendiri? Dan sesungguhnya sifat baik ataupun buruk itu terkandung dalam perbuatan, serta bukan melekat pada diri seseorang?

Dengan kontras itu, tak mengherankan kalau kemudian orang-orang, bahkan beberapa ahli hukum, tertarik untuk ikut berlomba menghakimi. “Oh, si pelaku menyebabkan orang lain mati karena kesalahan,” kata yang satu. “Pasal 359 KUHP,” kata yang lain. “Pasal 359 KUHP? Lima tahun? Terlalu ringan,” protes yang lain lagi. “Bukankah itu masuk pembunuhan?” celetuk temannya. “Betul. Itu pembunuhan. Eh, tapi, adakah rencana untuk membunuh?” “Hmm.. tidak, tidak.. itu karena kesalahan saja, bukan kesengajaan. Tapi.. lima tahun? Sembilan nyawa?! Pasti itu aturan sudah tidak lagi sesuai dengan jamannya.”

Perdebatan seperti itu, sebenarnya wajar terjadi dalam komunitas hukum, apalagi terkait dengan hukum pidana ataupun kriminologi. Tapi, apa yang terlupa di sini, bahkan mungkin penyidiknya sendiri tidak tahu, kasus ini sudah termasuk ke dalam kejahatan terkait dengan lalu lintas dan angkutan jalan. Sudah ada aturan yang khusus terkait itu. Sudah ada pasalnya yang mungkin, setidaknya dari fakta yang bisa dibaca di media, sesuai dengan peristiwa tersebut. Pasal berapa? Coba anda cari dalam undang-undang terkait. Tapi sebaiknya baca dulu dengan baik. Baru diperdebatkan sebaiknya seperti apa. Bukankah itu kelebihan orang yang belajar hukum?

Dan jangan lupa, dalam hidup, hitam dan putih itu seringkali tak sesederhana yang kita duga..

 

Tinggalkan komentar

Filed under Pidana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s