Pidato Sosrokartono: Bahasa Belanda di Hindia (1899)

(Naskah ini merupakan terjemahan dari pidato yang disampaikan oleh Raden Mas Pandji Sosrokartono dalam bahasa Belanda, pada Kongres Bahasa Belanda ke-25 di Belgia, sebagaimana dimuat dalam Neerlandia, tahun ketiga, Oktober 1899)

Nyonya-nyonya dan tuan-tuan sekalian!

Teman-teman! Sebuah salam untuk anda sekalian dari satu putera Jawa yang datang di sini, untuk menunjukkan rasa simpatinya pada Kongres ini. Teman-teman, begitu saya sebut anda sekalian, karena kita, walaupun berbeda ras, warna, tradisi, dan adat kebiasaan, bagaimanapun memiliki satu usaha bersama untuk mencapai satu tujuan yang sama: penyebarluasan dan penggunaan bahasa Belanda. Namun bedanya motif yang membawa kita ke sini. Apakah anda datang ke sini, didorong oleh cinta anda pada bahasa anda yang indah dan kokoh; saya mendatangi anda untuk meyakinkan manfaat mengetahui bahasa anda untuk kami, orang-orang Jawa.

Pertama-tama, saya ingin memberi anda gambaran pengetahuan akan bahasa anda di antara kami. Menurut perkiraan saya, karena saya tak dapat memberikan angkanya, banyaknya jumlah orang Jawa yang berbahasa Belanda hanya ratusan dari 26 juta jiwa. Sejauh yang dapat saya pikirkan, mereka adalah: murid-murid dan lulusan sekolah-sekolah petinggi, sekolah-sekolah pendidik pribumi, sekolah Dokter-Djawa, murid-murid sekolah di jemaat-jemaat Kristen pribumi, murid-murid Jawa pada Lagere-scholen, beberapa orang yang menikmati pendidikan privat, dan beberapa orang yang (pernah) duduk di Hoogere Burgerschool. Sebagaimana dijanjikan pada saya, murid-murid sekolah-sekolah petinggi, sekolah-sekolah pendidik untuk pribumi dan sekolah Dokter-Djawa berusaha dengan susah payah untuk dapat berbicara dan menulis bahasa Belanda dengan murni dan bagus. Mereka saling berbicara dalam bahasa Belanda, surat menyurat dalam bahasa Belanda, dan juga banyak membaca buku-buku, majalah-majalah, dan koran-koran berbahasa Belanda. Namun dalam lingkungan kerja di mana mereka ditempatkan, hal ini berbeda; di sana mereka ditempatkan berhadapan dengan pejabat-pejabat Belanda yang tidak mengijinkan pribumi bawahannya untuk berbicara dengannya dalam bahasa Belanda. (Karenanya) ketika bekerja, mereka tidak dapat mengembangkan pengetahuan praktis bahasa Belandanya lebih lanjut lagi. Selama orang pribumi menduduki posisi bawaha, maka tidak dapat terjadi pertukaran pemikiran dalam bahasa Belanda antara dia dengan pejabat-pejabat Belanda: Dari sudut pandang ini Dokter-Dokter Djawa (tuan-tuan mantri Jawa) secara umum lebih diuntungkan; mereka biasanya diijinkan untuk melayani dalam bahasa Jawa, sehingga pasien-pasien Belandanya dapat memahaminya dengan baik. – Pejabat-pejabat pribumi, meski begitu, harus berusaha bertahun-tahun lamanya, hingga memegang sebuah jabatan yang memberinya kehormatan untuk (boleh) diajak berbicara dalam bahasa Belanda: saat itu baru dirinya boleh menggunakan bahasa Belandanya yang bertahun-tahun sebelumnya tersia-sia. Namun berapa banyak yang tak pernah dapat keuntungan ini! Jadi sia-sia saja pengetahuan yang mereka pelajari! – Bagaimanapun, orang pribumi mendapatkan kesempatan untuk berbicara dalam bahasa Belanda, dan itu dengan orang-orang Belanda, yang karena posisi sosial mereka tidak dapat atau tidak berani menuntut penghormatan yang tinggi – namun yang bahasa Belanda mereka sangat kurang.  – Tentu saja ada perkecualian. – Bagaimana bahasa Belanda di kalangan jemaat-jemaat Kristen, tentang hal tersebut saya tak dapat menceritakan hal positif satupun. Pendapat saya, para anggota yang membentuk kesatuan tertutup, dapat saling mengambil manfaat bahasa Belanda!

Terkait dengan murid-murid Jawa pada sekolah-sekolah rendah, mereka ini tidak selalu mendapat kesempatan untuk mendengar dan berbicara dalam bahasa Belanda. Pertama, terdapat beberapa orang yang, terutama pada mulanya, menggunakan bahasa Melayu terhadap teman-teman Belanda mereka, karena mereka lebih mudah mengungkapkan ekspresi mereka. Kedua, di sekolah-sekolah, terutama di pedalaman, penuh dengan murid-murid Belanda yang bahasa Melayu atau Jawanya lebih bagus dari bahasa Belandanya, atau, jika mereka berbahasa Belanda, bahasanya kurang pas-pasan. Apakah mungkin, dengan kondisi semacam ini, orang Jawa dapat belajar bahasa Belanda yang murni? Terlebih lagi orang Jawa sangat terpengaruh oleh bahasanya: ia sangat terbiasa dengan konstruksi kalimat Jawa atau Melayunya. Ketika berbicara bahasa Belanda dia ikuti konstruksi tersebut, sedangkan, apabila dia tak mengenal suatu kata Belanda, tanpa tedeng aling-aling dia tambahkan kata Jawa atau Melayu dalam kalimatnya. Dengan begitu muncul suatu bahasa yang lebih asyik terdengar di telinga orang Belanda yang ingin saya juluki “Indo-Belanda”. – Bahasa yang tidak biasa ini tidak hanya dimengerti, tetapi juga digunakan untuk berbicara dan menulis oleh sejumlah orang-orang Indo-Belanda. – Sementara di sisi lain cukup banyak contoh yang membuktikan bahwa orang-orang Jawa juga dapat berbicara dan menulis bahasa Belanda dengan bagus. – Saya masih ingin menyampaikan, bahwa menurut surat-surat dari pendidik, dan menurut almarhum Tuan J.M. Rosskopf, ketika hidup merupakan pengawas pendidikan rendah, terdapat murid-murid Jawa yang layak mendapatkan pujian. – Menurut surat-surat yang sama, para murid Jawa sangat rajin dan mendapatkan nilai-nilai tertinggi di antara teman-teman Belandanya. – Menurut pendapat saya tidak ada metode yang lebih baik bagi pemuda-pemuda Jawa untuk dapat belajar bahasa Belanda, selain menempatkannya dalam kondisi di mana dirinya dipaksa untuk dapat berbicara dan berpikir dalam bahasa Belanda. Tujuan ini dapat dicapai, antara lain, dengan menempatkan pemuda-pemuda itu tinggal (indekos) di tempat keluarga Belanda, atau pada asrama sekolah. Ini adalah metode yang selalu diikuti oleh ayah saya. Karena anak Jawa yang hanya mendengar bahasa Belanda digunakan di sekolah, serta berbicara dan berpikir dalam bahasa Jawa di rumah, tidak akan mudah membuat kemajuan. Namun keberatannya, tidak banyak yang dapat menanggung biaya pendidikan semacam itu.

Sebuah contoh yang tidak biasa dan mengagumkan dari bakat-bakat bagus untuk belajar bahasa Belanda, dapat saya sampaikan kepada anda, dimiliki tiga gadis Jawa. Sebelumnya saya minta maaf, apabila di sini saya menggunakan saudara-saudara perempuan saya sendiri sebagai contoh, karena alasan yang sederhana, yaitu paling jelas (saya ketahui). – Pendidikan saudara-saudara perempuan saya sangat sederhana: mereka mengikuti pelajaran-pelajaran pada sekolah rendah pribumi kelas 2 di Jepara. Dengan pengetahuan mendasar yang mereka dapatkan di sana, mereka jadi bisa mengembangkan pengetahuannya, dan dengan belajar sendiri mereka dapat mengembangkan diri, sehinga mereka dapat memberikan sumbangan karya sastra dalam bahasa Belanda untuk majalah-majalah, serta surat menyurat dengan beberapa tokoh terkenal dalam dunia sastra Belanda, antara lain dengan Johanna van Woude dan Justus van Maurik, yang dalam surat mereka, akan saya bacakan untuk anda, menuliskan pendapat mereka.

Terkait dengan pendidikan privat, terdapat beberapa petinggi yang anak-anaknya, baik putera, maupun puteri, mereka sekolahkan pada seorang pejabat atau pendidik. Ya, bahkan saya juga mengenal seorang Bupati perempuan yang belajar bahasa Belanda dari seorang pendidik, karena Bupati (semestinya) berbahasa Belanda. Bahasa Belanda bagaimanapun sekedar bahasa di mana di dalamnya mereka mempertahankan diri. – Selanjutnya juga terdapat petinggi-petinggi Jawa yang menempatkan anak-anaknya di tempat keluarga Belanda untuk belajar bahasa Belanda, atau untuk mendapatkan pendidikan secara umum. – Saya juga ingin menunjukkan hasil-hasil memuaskan, yang didapatkan almarhum Pangeran Demak, yang menyekolahkan puteranya pada pejabat pemerintah. Mereka yang lebih ahli dari saya, dapat menyaksikan ini.

Murid-murid Jawa pada Hoogere Burgerscholen selalu sangat sedikit jumlahnya. Ini gejala yang kurang bagus, hal ini menurut hemat saya disebabkan oleh banyaknya anak-anak Jawa, yang menyenyam pendidikan sekolah rendah di pedalaman, atau terlalu awal meninggalkannya, atau tidak mendapatkan kesempatan, karena terbatasnya kemampuan mereka, untuk melanjutkan pendidikan ke Hoogere Burgerscholen. Karena, untuk dapat mengenyam pendidikan seperti ini, mereka harus tinggal di satu dari tiga kota besar: Batavia, Semarang, Surabaya. Pembelian alat-alat sekolah, serta pakaian Belanda, buat banyak orang masih merupakan pengeluaran yang terlalu berat. – Beberapa murid Jawa meninggalkan Hoogere Burgerscholen, karena terbatasnya energi atau karena alasan lain, ketika mereka telah melalui beberapa kelas. – Hingga saat ini hanya ada 3 orang Jawa, yang mengikuti ujian akhir di Hindia. Sebagai contoh-contoh teladan, saya ingin menyebut Raden Mas Oetojo, yang menuliskan artikel-artikel dalam harian ‘Locomotief’ dalam bahasa Belanda yang sangat bagus dan jelas berkelas. Juga pada Hoogere Burgerschool, orang-orang Jawa telah jelas membuktikan, bahwa mereka mampu bersaing dengan orang-orang Belanda.

Terakhir saya ingin memberikan perhatian pada kehadiran putera-putera petinggi Hindia di negeri ini, yang ingin menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasanya sendiri. Tiga putera Pangeran Haria Mataram ada di Den Haag, beberapa putera Sultan Koetei tinggal di asrama sekolah di Voorburg; satu putera Pangeran Pakoe Alam di Hoogere Burgerschool di Nijmegen. Melengkapi itu, saya sebut diri saya sendiri sebagai seorang calon mahasiswa bahasa dan sastra Hindia.

Masuknya 37 saudara sebangsa saya dalam Perkumpulan Bahasa Belanda Umum, di mana saya ingin menyelamati anda semua dan diri saya sendiri, saya sambut sebagai sebuah peristiwa yang positif dan menggembirakan.

Sekarang saya ingin menunjukkan kepada kita pentingnya, serta manfaat dari bahasa Belanda.

Pertama-tama, demi kepentingan anda sendiri. Ingin saya jelaskan kepada anda, bahwa di antara masa penduduk pribumi yang besar itu, simpati kepada anda yang anda harapkan itu, tidak ada; Ya, banyak sekali ketidakpedulian. – Tak kenal, maka tak sayang. – Jadi ada semacam keengganan, ini semacam sisa tradisi. – Kelompok masa yang besar itu tidak menyadari untungnya pemerintahan Belanda. Seperti hewan pengangkut barang yang dibebani dengan buah-buahan yang lezat, mereka tidak bisa menikmati, tidak juga menyadari nilainya, meski mereka rubuh menanggung beban itu, begitu halnya bangsa Jawa tidak dapat menilai belas kasihan yang anda berikan. – Ajarkan kepada orang Jawa bahasa anda, agar dia dapat lebih memahami anda; agar dia dapat membandingkan kondisinya di bawah petinggi-petingginya sendiri dengan di bawah kekuasaan Belanda; agar dia, di tengah perjalanan mungkin berubah, memuji anda sebagai penyelamatnya. – Ajarkan kepada orang Jawa, dengan bahasa anda, bagaimana merasakan rasa terima kasihnya kepada anda yang dapat membuat anda menuntut keadilan, sehingga, apabila ada orang asing mencoba mengusir anda dari tanah kami, anda dapat meminta pertolongan dan kesetian dari 26 juta orang Jawa.

Juga dalam prakteknya, terutama untuk pejabat Belanda, akan sangat mudah apabila pejabat Jawa dapat mengerti dan berbicara dalam bahasa Belanda. Dia akan dengan mudah mendengar paparan permasalah-permasalahan paling sulit sekalipun dalam bahasanya sendiri.

Terkait dengan pekerjaannya, akan banyak waktu, juga tenaga, dapat dihemat, jika bahasa Belanda diwajibkan sebagai bahasa kerja, sementara saat ini banyak waktu terbuang untuk mengubahnya ke dalam bahasa Jawa atau Melayu.

Dalam rangka pembelajaran bahasa, negeri, dan bangsa, pengetahuan akan bahasa Belanda juga diperlukan. Penelitian untuk orang Belanda akan jadi lebih mudah. – Melalui surat menyurat dengan orang-orang Jawa, dengan sumbangan mereka maka ilmu pengetahuan akan diuntungkan. Terlebih lagi orang pribumi, dilengkapi dengan pengetahuan bahasa Belandanya, juga dapat mengetahui (penelitian-penelitian) tentang dirinya, atau berasal darinya, yang ditulis oleh peneliti Belanda. Dan seringkali, peringatan dan saran (tanggapan yang ia (berikan) tidaklah berlebihan. Saya percaya banyak peneliti yang membatin: “Saya sebenarnya berharap, dia dapat mengatakannya (tanggapan itu) dalam bahasa Belanda.”

Sedikit negeri-negeri di dunia ini yang begitu buruk dipahami sebagaimana Jawa kami. Banyak orang di Belanda yang tidak mengenal kami. Hampir setiap hari saya lihat contoh nyata dari hal tersebut. – Banyak jumlahnya, orang yang hanya mengenal kami secara dangkal, sementara sedikit sekali orang yang mengerti bangsa kami, yang menyayangi dan ikut merasakan, serta mengenal harapan-harapan kami. Mereka yang sedikit itu mengajarkan kami kasih sayang. – Banyak yang ditulis tentang Jawa, namun seringkali digunakan ukuran penilaian yang keliru; seringkali kami dinilai dan dihakimi, tanpa kami tahu penilaian atau vonis itu: karena kami tidak mengenal bahasa anda. Terhadap suatu bangsa secara keseluruhan, vonis dijatuhkan, tanpa diberikan seorang pembela sekalipun. Namun ini akan berubah.

Sebuah pergaulan yang bebas dan tanpa paksaan, antara orang Belanda dan orang Jawa dengan bahasa Belanda sebagai kendaraan untuk membawa pemikiran keduanya lebih dekat lagi. Perkenalan yang mendasar ini akan berlanjut dengan sendirinya pada perasaan untuk lebih saling menghargai, serta simpati yang lebih mendalam. Apakah hal ideal ini akan dapat dicapai? Kita harap begitu. Apakah anda, sebagai penakluk, akan dapat turun untuk mengenal kami dengan lebih baik? Tidak, itu tak akan dapat anda lakukan. – Tapi itu tergantung pada kami, untuk mengangkat diri kami sejajar dengan anda,  – akankah anda ulurkan tangan anda kepada kami?

Maka akan hilang praduga anda terhadap kami; maka anda akan lihat, bahwa kami lebih baik, dari kelihatannya; bahwa kami juga dikaruniai akal sehat, dan bahwa kami dapat mempelajari, apa yang anda pelajari, apabila kami memang menginginkannya.

Kami masih anak-anak, tak tahu apa-apa, dibandingkan dengan anda. Dua setengah abad sudah kami berjalan sebagai anak di bawah umur, di bawah titahan Belanda. Dan bagaimanapun, pertanyaannya, bagaimana dengan perkembangan jiwa anak tersebut? Secara materiil dan fisik maju, tetapi jiwanya kekurangan: dia hanya seorang anak yang (tubuhnya) besar. – Tak dapat dipungkiri, bahwa si anak secara kejiwaan akan berkembang, meskipun hanya melalui hubungan dengan penitahnya. Dan besar kemungkinan di masa yang akan datang, akan sangat tergantung pada pendidikan moral dan kejiwaannya pada tahap awal, apakah pembimbing hidupnya memperlakukannya sebagai ayah, sebagai saudara, sebagai teman, ataupun sebagai orang asing atau musuh. – Namun sebegitu jauh belumlah terjadi – dan sejauh ini abad pertama belum juga terlampaui. Hal ini penting, mumpung sekarang belum terlambat, antara penitah dan anak ditumbuhkan rasa simpati dan sayang, yang hanya akan bertambah kuat seiring waktu.

Berikanlah kepada kami santapan rohani yang menjadi hak kami. Bukalah bahasa Belanda bagi kami sebagai kunci untuk memasuki kamar-kamar harta karun pengetahuanmu; si anak haus akan pengetahuan; dia merasakan itu, dia butuh sesuatu.

Tumbuhkan dan siangi kecintaan pada ilmu pengetahuan, terutama cinta kepada bahasa anda, dan anda tumbuhkan cinta kepada bangsa anda, negeri anda, juga lingkungan Kerajaan anda!

Dan engkau, putera-putera Jawa, untuk siapa saya berani katakan ini; dengarlah, waktu berputar, saatnya anda bangun dari tidur memabukkan anda untuk mempertahankan hak-hak anda: hak untuk bersaing dengan semakin banyak orang dalam peradaban dan kemajuan, dalam pengetahuan, kecermatan dan ketekunan: dengan begitu anda akan menjadi anugerah bagi negeri anda! Lucuti diri anda dari belenggu prasangka, yang masih menindas anda, kembangkan diri mendekati bakat anda dan biarkan karakter anda meningkat pesat! Berusahalah terus menerus untuk mencapai ideal: pembangunan; bangunlah seluruh energi anda untuk membantu membentuk bangsa kita dari anak menjadi orang dewasa.

Untuk kepentingan anda, saat dengar pendapat dengan Yang Mulia, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, pada tanggal 14 agustus, saya menunjukkan perlunya penyebarluasan pengetahuan bahasa Belanda, terutama di kalangan putera-putera petinggi Hindia, yang akan berakibat pada hilangnya bermacam-macam salah paham. Yang Mulia menunjukkan persetujuannya dengan kata-kata saya. – Bangunlah, kalian para putera Jawa, dan sambutlah bukit pengetahuan yang menjulang di hadapan anda.

Sangat jauh dari maksud saya untuk membuat anda sekalian menjadi orang-orang Belanda. Pertama-tama, anda harus menjadi dan tetap menjadi orang Jawa. Anda dapat menjadikan perkembangan Eropa menjadi bagian anda sendiri, tanpa harus melepaskan kepribadian dan keunikan anda. Bahasa anda sendiri harus anda kuasai dan di samping itu bahasa Belanda; bukan untuk menggantikan, namun untuk memperkaya pengetahuan anda. Tumbuhan membutuhkan air, udara, untuk perkembangannya; ia tak perlu melebur menjadi air atau udara, sementara ia tetap dapat mengembangkan dirinya. Dengan pasti saya tegaskan bahwa saya akan menjadi musuh dari siapa saja yang akan membuat kita menjadi orang Eropa atau setengah Eropa, dan hendak menyingkirkan tradisi-tradisi dan adat kebiasaan kita yang suci. Selama matahari dan bulan masih bersinar, itu akan saya lawan.

***

Dan sekarang saya ingin beranjak menuju pembahasan pada cara-cara yang dapat memajukan kepentingan kita bersama.

Pertama-tama, setiap orang Belanda semampu mereka untuk ikut berpartisipasi, baik dalam lingkup terbatas, maupun lingkup yang luas. Dengan sepenuh hati saya berharap, terutama dari para pejabat yang banyak bersentuhan dengan para pribumi. Mereka adalah orang-orang yang ditunjuk untuk menumbuhkan dan merawat cinta untuk kecintaan pada bahasa Belanda. Hal ini juga bisa mereka lakukan dengan mengajak bicara orang-orang Jawa berbahasa Belanda untuk berbicara dalam bahasa Belanda, serta membiarkan mereka memberikan jawaban dalam bahasa tersebut. Ini menjadi tanggungan mereka untuk cinta mereka pada tanah airnya; dan secara moral mereka juga wajib untuk memberikan, selain hal-hal yang bersifat material, juga memenuhi dan memajukan kebutuhan intelektual jutaan orang yang berada di bawah kekuasaannya. Sebagaimana anda mempunyai kecintaan pada bahasa anda, bangsa anda, negeri anda, serta lingkungan kerajaan anda, tumbuhkan juga kecintaan pada bahasa anda itu. Sebagai orang Belanda yang sebenarnya, anda wajib melakukan itu. Saya tahu, bahwa usulan saya akan mendapatkan perlawanan dari banyak pejabat, serta bukan-pejabat, yang menempatkan dirinya pada posisi mulia yang minta dipuja-puja; tapi saya persalahkan mereka karena cintanya yang kurang pada bahasa mereka. Dan izinkanlah saya, saya sendiri berasal dari ras kulit coklat, untuk memastikan kepada anda, bahwa orang-orang Jawa yang memberikan baktinya kepada raja-rajanya sendiri, tidak akan begitu saja memberikannya kepada orang-orang asing. Jika ada yang melakukan itu, maka itu dilakukan dengan keengganan: – Orang sering berlindung di balik kata prestise; baiklah, itu kepunyaan sah sang penakluk. Tetapi haruskah presite ini dicari dengan menggunakan suatu bahasa asing dan menyangkal bahasanya sendiri?

Suatu kebiasaan aneh banyak orang Belanda adalah menertawakan dan mengejek orang-orang asing yang berbicara dalam bahasa mereka dengan pas-pasan, ketimbang mengapresiasi usaha mereka dan menunjukkan sebagaimana semestinya. Saya berulangkali menjadi saksinya. – Akankah ini mendorong orang untuk belajar bahasa Belanda? – Saya tidak cukup kuat untuk memprotes kebiasaan ini. Hal ini tak pernah saya temui, baik orang Perancis, orang Inggris, atau orang Jerman, bahkan orang Jawa sendiri tidak begitu. – Saya pastikan pada anda, bahwa orang Jawa yang mengerti bahasa Belanda, membaca dan menulis, akibat ejekan yang kekanak-kanakan ini terhambat untuk mengucapkan satu kata Belanda sekalipun!

Sebagai gambaran idealnya saya usulkan suatu pergaulan yang bebas dan tanpa paksaan antara orang-orang Jawa dan orang-orang Belanda, tentu sejalan dengan bakat dan perkembangan masing-masing; dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pergaulan; tukar pikiran yang bebas.

Saya ajukan tuntutan pada semua orang Belanda, baik di Belanda, maupun di Hindia, untuk mendorong usaha ini di lingkungan masing-masing, karena hanya mereka dapat menjadikan ini permata dan kehormatan.

Dan juga satu tuntutan yang kuat. Berikanlah, para pendidik dan pemimpin, santapan rohani kepada kami yang menjadi hak kami; jangan rampas ini dari kami. Perhatikan aspirasi dari Hindia saat ini; penuhi tuntutan dan keperluannya. Berikanlah kepada orang Jawa cukup kesempatan untuk menjadikan ilmu pengetahuan Barat sebagai miliknya sendiri. – Bangunkan dia dari selimut ketidakmampuan; tunjukkanlah cahaya untuk lepas dari kegelapan ketidaktahuan. Di sini anda hanya cukup memenuhi tugas yang anda ambil sendiri secara sukarela; dan perbaikilah satu kelalaian ini. Bukalah di mana-mana dan sebanyak mungkin kesempatan untuk orang Jawa yang haus pengetahuan untuk menghapus dahaganya, dan perwalian anda akan menjadi berkah bagi jutaan orang. – Perluas pengajaran bahasa Belanda untuk putera-putera Jawa, agar tidak terbuang tenaga yang dikeluarkan, yang dapat semestinya dapat membuktikan satu bakti pada bangsanya. – Kami merasakannya, kami menyadarinya, bahwa selain nasi dan daging kering, kami juga butuh makanan untuk orang-orang yang berpikir. – Kami saksikan kereta-kereta tanpa kuda bergulir di atas jalur-jalur baja; kami melihat kapal-kapal mengarungi lautan bebas tanpa layar; kami melihat cahaya, tanpa disulut; kami lihat banyak hal yang bagi kami hanya merupakan keajaiban dan misteri. – Atau kami akan menganggap, bahwa orang Jepang dapat berkembang bebas dan pesat, orang Amerika menciptakan keajaiban-keajaiban, yang kami dengar sebagai dongeng-dongeng dan cerita-cerita fabel, tanpa dalam diri kami sendiri tumbuh keingintahuan, suatu dorongan untuk ingin tahu lebih banyak lagi. – Perhatikanlah aspirasi-aspirasi kami; kami tidak kekurangan niatan baik; kami hanya kekurangan kesempatan.

Dengan serius saya mohon, berikan simpati dan sayang itu pada Insulinde yang berhak atasnya. Dan anda, para penguasa, yang di satu tangan menjadi juru selamat perdamaian, sedang di tangan yang lain menjadi pencipta peradaban, bantulah tumbuhnya persaudaraan antara anda dan rakyat anda.

Sebagai pengikut, murid dan saudara, saya datangi anda; dan jika anda mendengar harapan saya, maka orang yang datang ke sini untuk meminta simpati anda, telah merasa sangat dihargai.

Marilah teman-teman dan saudara-saudara saya, kita saling mengulurkan tangan dan bekerja bersama tanpa hambatan untuk kepentingan kita bersama.

Marilah kita dekatkan hubungan pertemanan dan persaudaraan, agar ideal dari segenap bangsa dapat tercipta, masih di bawah pemerintahan ratu yang kita cintai.

Dan aku lihat menyingsingnya fajar suatu masa yang akan datang, di mana pada malam-malamnya yang dingin di bawah sinar bulan, orang Jawa, disertai dengan nada manis yang terdengar dari gamelan, mengirimkan hymne dan lagu-lagu terima kasih ke surga untuk mengenang saudara-saudara kulit putihnya.

 

3 Komentar

Filed under Kilas Sejarah

3 responses to “Pidato Sosrokartono: Bahasa Belanda di Hindia (1899)

  1. koalisikmrt

    mohon izin untuk di-share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s