Tentang Kesulitan Hakim Kolonial Menggali Fakta

(Diterjemahkan dari VIER-EN-VIJFTIGSTE-BRIEF di dalam “Brieven van Opheffer”, hlm. 206-208)

Surat Ke-Lima-Puluh-Empat

Tentang bagaimana Kromo membakar amarah para hakim.

15 Mei 1912.

Di sana saya terima sebuah paket lembaran-lembaran negara, nomor 191 sampai dengan 204. Nomor terakhir itu, “dibuat di Buitenzorg, 21 Februari 1912”. Dengan demikian, sebanyak 200 lembaran negara sudah dihasilkan dalam waktu 50 hari; 4 setiap harinya, atau lebih dari 1400 setiap tahunnya. Amat, si penjilid buku, sampai tak punya alat untuk menjilid terbitan-terbitan itu menjadi satu bagian.

Di masa lalu, dengan tenang bisa kau sambit kepala orang dengan terbitan tahunan itu, jika terdapat kebutuhan mendesak untuk itu, namun untuk saat ini, perbuatan mengesankan semacam itu tak lagi disarankan; terbitan-terbitan tahunan itu terlalu tebal dan kau akan mengambil resiko mengakibatkan matinya seseorang.

Semenjak aku lebih terdidik menjadi seorang etis, aku lebih suka membuat orang terkesan dengan lampiran-lampiran yang belum muncul. Jika ada seseorang yang menyebalkan, katakan saja: “Tuan, itu tidak mungkin; itu jelas bertentangan dengan lampiran No. 9723”. Nomor itu sebenarnya belum keluar, tapi justru di situ menariknya. Pernyataan itu sangat mengesankan. Orang-orang yang membuatmu sebal itu akan selalu tersentak dengan keterkejutan: “Oh! Maaf..”. Terlebih lagi, terbuka pula kemungkinan orang-orang itu akan menceritakan ke mana-mana bahwa kau adalah koran berita yang luar biasa – mengenal semua lampiran-lampiran itu di luar kepala.

Iya, para pejabat di Hindia mempunyai bermacam-macam trik untuk menjalankan kewenangannya. Seorang ketua pengadilan Landraad yang telah dikuasai amarah, mencapai titik puncak kemarahannya, ketika Kromo berbohong.

Peluru pertamanya, sepatunya. Yang kedua, kitab undang-undangnya. Dan yang ketiga, cerutunya. Dia tak pernah menyimpang dari urutan itu. Saya sendiri tak percaya dia dapat membuat targetnya mengatakan kebenaran. Seorang teman kerja lain lebih berbahaya lagi: dia gunakan palu sidangnya dan pada suatu ketika memakan korban dua gigi depan seorang saksi. Saat ini, sudah ada jaksa yang meminta saran terkait kasus tersebut. Jika saja kasus ini bocor dan dia tak pernah melaporkan sesuatu, maka dia juga akan harus ikut bertanggungjawab. Saya berikan nasehat, sebelum sidang dimulai, agar mengikat palu ketua majelis pada kaki meja dengan suatu kawat halus yang kuat; sehingga terjadilah hal itu, ketika Yang Mulia kembali terbakar amarah dan melemparkan pelurunya, peluru itu kembali ke pelemparnya dengan kecepatan tinggi.

Dampaknya begitu menggelikan, sehingga pada akhirnya dia sembuh untuk selamanya.

Jangan kau bayangkan ketua-ketua pengadilan ini terpengaruh buasnya alam tropis; dalam kehidupan bermasyarakat mereka itu orang-orang yang ramah, bapak-bapak yang baik, dan hakim-hakim yang manusiawi, namun kau menghadapi Kromo yang dengan wajah termanis di dunia, membakar emosimu. Di sana hawanya gerah, serta kau punya banyak pekerjaan, dan sebuah sidang di hadapanmu yang seperti tak ada hentinya.

Tiga perempat jam waktumu telah kau habiskan, untuk seseorang yang kembali menyatakan sesuatu yang berbeda dari pemeriksaan pendahuluan: tentu saja, dia telah melihatnya; pada suatu Djoemahat Kliwon pada pukul 11 malam, saat dia kembali dari pekarangan yang dijaganya, ketika itulah dia bertemu dengan terdakwa 1 yang menarik seekor kerbau ke arah timur.

–          Ke arah timur? Dan di dalam pemeriksaan pendahuluan anda telah menyatakan bahwa terdakwa membawa hewan tersebut ke arah barat.

–          Itu tak pernah saya nyatakan.

–          Iya, namun itu tercantum di dalam berita acara yang dibuat di bawah sumpah jabatan oleh asisten wedana.

–          Bisa jadi, tapi saya tak pernah nyatakan itu.

–          Dan kepada jaksa anda juga menyatakan bahwa terdakwa 1 pergi ke arah barat.

–          Itu tak pernah saya nyatakan.

–          Saudara saksi, ingat bahwa anda berada di bawah sumpah.

–          Noen, inggih.

–          Lanjutkan cerita anda.

–          Ketika itu, saya lihat terdakwa 1 pergi ke arah barat dan saya sapa dia: kang…

–          Berhenti sebentar; anda tadi baru saja bilang, kalau dia pergi ke arah timur.

–          Tidak, itu tak pernah saya katakan.

–          Dan saya ingatkan anda lagi, bahwa pernyataan itu tidak sesuai dengan pernyataan pertama, di mana anda katakan bahwa dia pergi ke arah barat, serta saat itu anda bersikukuh pada pendapat anda dan anda katakan anda tak pernah mengatakan bahwa dia pergi ke arah barat.

–          Itu tak pernah saya katakan.

–          Dan baru saja anda katakan, dia pergi ke arah barat!

–          Iya, dia memang pergi ke arah barat.

–          Jadi, pernyataan pertama anda kepada asisten wedana dan pernyataan anda kemudian kepada jaksa, bahwa anda telah melihat terdakwa pergi ke arah barat, itu tepat.

–          Tidak, itu tidak tepat; Jika itu yang mereka tuliskan, itu tidak tepat; mereka telah silap.

Kembali terdengar pidato dari ketua pengadilan yang mengingatkannya tentang betapa seriusnya arti sumpahnya. Suhu memanas, 87° F di ruangan tersebut; sekarang sudah setengah dua siang.

–          Saudara saksi, anda mengambil resiko terkena tuntutan karena sumpah palsu.

–          Noen, inggih.

–          Jadi terdakwa pergi ke arah barat?

–          Tidak, ke arah timur.

Tentu, kalau kemudian seseorang jadi kebakaran jenggot, itu tidak mengherankan. Apakah itu keluguan, seperti yang dia katakan setelah dirinya terpojok? Atau dia sudah tak tahu lagi harus berbuat apa?

Dapat kau pikirkan. Bagi mereka yang berani, telah dijanjikan tiga perak jika dia dapat berbohong sehingga terdakwa bebas.

Namun, ingin sekali saya melihat muka ketua pengadilan itu lagi, jika dia harus mengadili “kasus penamparan” [klapzaak; kasus yang dulu sering terjadi ini, biasanya diawali seorang Eropa yang menampar pekerja pribumi, tetapi kemudian, karena merasa sangat malu, orang pribumi tersebut melukai atau membunuh orang Eropa itu, misalnya, dengan memukulkan cangkulnya, red.] atau akan memeriksa pengaduan terhadap seorang wedana yang menolak untuk menjewer seseorang yang berbohong.

 

Tinggalkan komentar

Filed under Kilas Sejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s